Maafkan
Aku Mama
Karangan : Zelda L Siahaya
“Hoamm”, pagi
ini Stella sangat malas sekali. Dengan terpaksa Stella pun harus segera mandi.
Dia tidak mungkin membolos sekolah hari ini. Dia harus menghadapi try out kota
di sekolahnnya. Stella salah satu murid SMPN Jaya 1 ini adalah anak yang sangat
nakal. Apalagi dengan orang tuannya, dia terlihat seperti anak durhaka. Tetapi
orang tua Stella hanya bisa sabar menghadapinnya. Mereka yakin suatu saat nanti
Stella bakal berubah.
Setelah mandi
dengan wajah lesu dia turun ke bawah untuk sarapan pagi dengan keluarga.
Seperti biasa dia hanya duduk di meja makan tidak bertegur sapa dengan orang
tuannya. Papa Pratama terkadang memarahinnya karena sifatnnya itu. tetapi untuk
kali ini Papa Pratama hanya bisa diam. Stella langsung beranjak dari kursinnya
dan berangkat sekolah tanpa berpamitan dengan orang tuannya.
“pah
semakin lama anak kita perlakuannya semakin parah. Mama sedih melihat sifatnnya
yang seperti itu.”, keluh Mama Leni.
“sudah,
mama tidak usah memikirkan anak durhaka itu. sekarang pikirkan kesehatan mama
dulu. Papa tidak mau penyakit mama semakin parah.”, jawab Papa Pratama.
Mama
Leni memang terkena penyakit yang cukup parah. Tetapi Stella tidak tau tentang
hal itu. Papa Pratama sangat sedih melihat istrinnya yang sakit-sakitan itu.
Dia mulai memikirkan bagaimana carannya agar sifat Stella itu berubah.
Di
sekolah, seperti biasa, dia berkumpul dengan teman-temannya. Saat dia ke kantin
tiba-tiba “brakk !”, setumpukan buku jatuh di depannya. “eh gimana sih kalau
jalan ! udah tau aku mau lewat !!”, bentak Stella. “maaf aku tidak sengaja. Aku
sangat repot membawa buku sebanyak ini. maafin aku.”, jawab Viona. “udah sana
minggir !!”, Stella sangat jengkel dengan Viona.
Setibannya
di kantin dia melihat teman-temannya sudah berkumpul. Sebagian besar teman-temannya
adalah laki-laki. Yang perempuan hanya Sherly, Ririn dan Lika. Sifat mereka
juga sama dengan Stella. “eh, lihat tuh kumpulan para cupu. Hahaha”, ejek
Sherly kepada geng Viona. “udah Viona jangan di dengerin ya kita duduk di situ
aja yuk, anggap aja angin lewat.” Bujuk Shinta salah satu sahabat Viona. “eh
cupu kalau emang nggak berani bilang gak usah sok bijak deh.”, sahut Ririn. “ah
mending makan aja deh dari pada ngurusin geng cupu itu.”, gerutu Stella.
Viona
adalah salah satu murid yang terkenal kepandaiannya di sekolah. Dia selalu
bersama sahabat-sahabatnnya yaitu Shinta,Dea dan Talista. Stella dan
teman-temannya selalu jengkel saat guru-guru memuji mereka. Stella tidak mau
terkalahkan oleh Viona dan teman-temannya. Kedua geng itu juga sangat terkenal
di SMPN Jaya 1. Satu sekolah hampir tau geng Stella dan geng Viona tidak pernah
akur. Tetapi murid-murid SMPN Jaya 1 tau bahwa geng Stella lah yang selalu
membuat masalah di sekolah. Para guru pun juga hampir putus asa mengahadapi anak-anak
nakal itu.
“Tett,
tett, tett.” Bel masuk pun berbunyi. Anak-anak kelas 9 segera masuk ke kelasnya
masing-masing. Mereka harus melaksanakan try out se-Kota. Saat try out sedang
berlangsung, terlihat Stella selalu saja bertannya kepada teman yang ada di
depannya. “Stella !! kerjakan pekerjaanmu sendiri !!”, tegur Ibu Kristin salah
satu guru yang sangat jengkel dengan sifat Stella. “ibu ini gimana sih !! kalau
tidak mencontek bagaimana nilai kita bisa bagus !”, jawab Stella. “sekarang
kamu keluar dan bawa sini pekerjaanmu !! CEPAT !”, bentak bu Kristin sambil
mengusir Stella dari kelas. Dengan wajah kesal dan penuh amarah Stella
memberikan kertas jawabannya kepada Bu Kristin.
“ah
gila tuh guru, gimana nilai anak-anak mau bagus kalau gak nyontek !”, gerutu
Stella. Terlihat Viona sedang duduk di depan kelasnnya. “eh cupu ngapain kamu
di situ ? kamu di usir dari kelas ya ?”, tanya Stella. “enggak kok Stella aku
sudah selesai. Aku Cuma menunggu teman-temanku.”, jawab Viona dengan lembut.
“oh yauda aku mau pulang. Bête di sekolah !!”, jawab Stella sinis.
“Brakk
!!”, suara pintu rumah yang telah dibanting oleh Stella. Papa Pratama dan Mama
Leni sangat terkejut. “apa-apaan sih kamu Stella. Pulang-pulang langsung
banting pintu !!.”, bentak Papa Pratama. “Papa kok udah pulang sih ?”, tanya
Stella. “Mama kamu sakit.”, jawab Papa Pratama. “oh, yauda Stella mau ke
kamar.”. Dia langsung ke kamar tidak menghiraukan Papannya dan sama sekali
tidak menanannyakan bagaimana keadaan mamannya.
Mama
Leni keluar dari kamarnnya dan menuju ke kamar Stella. “Sayang kamu sudah
pulang nak ?”, tanya Mama Leni sambil memegang dadannya yang sakit. “sudah ma.
Mama ngapain ke kamar Stella. Bukannya dulu mama tidak pernah menannyakan
kedaanku ? Mama selalu memikirkan diri Mama sendiri. Mama nggak pernah pikir
perasaan Stella sama Papa !!”, bentak Stella. “Maafkan Mama Stella. Tapi Papa
kamu slalu ada di hati Mama sayang.”, jawab Mama Leni sambil menangis. “Mama
bohong !! di hati Mama Cuma ada Papa Pratama !! Mama pergi aja dari kamar Stella
!!.”, usir Stella. Sambil menangis Mama Leni keluar dari kamar Stella. Dia
tidak menyangka anak satu-satunnya bersikap seperti itu kepadannya.
“kamu
kenapa ? apa yang Stella lakukan terhadapmu ?”, tanya Papa Pratama panik. “aku
tidak papa kok. Stella masih belum trima posisi Papannya tergantikan. Dan aku
dulu juga selalu memikirkan pekerjaanku. Itulah yang membuat sifat Stella
berubah. Aku takut Stella membenci ku.”, jawab Mama Leni sambil menangis.
“sudah tidak usah kamu pikirkan sekarang kamu istirahat saja.” Papa Pratama
langsung mengajak Mama Leni ke kamar untuk beristirahat. Air mata Mama Leni
terus menetes. Dia merindukan Stella yang dulu. Stella yang lucu dan sangat
baik hati.
Keesokan
harinnya seperti biasa dia sama sekali tidak menghiraukan orang tuannya. Dia
masih terpukul saat Mamannya menikah dengan Papa Pratama. Stella masih
menyayangi Papa kandungnya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
“uhukk .”, batuk Mama Leni. “astaga, hidung kamu berdarah. Ayo kita ke rumah
sakit. Stella ikut Papa ya ?”, ajak Papa Pratama. “enggak mau. Males.”, jawab
Stella dengan acuh.
Ketika
Papa Pratama mengantarkan Mama Leni ke rumah sakit, Stella mengambil foto
Papannya. Dia memeluk erat-erat foto itu. dia sangat merindukan Papannya.
tiba-tiba air mata Stella menetes. Dia pun tertidur pulas di sofa ruang
keluarga. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan Papanya. Stella berlari
menuju Papannya dan memeluknya dengan erat. “Stella, Papa merindukanmu. Papa
sayang sama kamu.”, kata Papa Stella. “Aku juga merindukan Papa. Aku sayang
sekali dengan Papa.”, jawab Stella dengan penuh kasih sayang. Tapi tiba-tiba
Mama Leni datang dan mengahmpiri mereka. “Stella, Mama harus pergi dengan
Papamu. Jaga dirimu baik-baik sayang.”, kata Mama Leni sambil melambaikan tangan.
“Kring
!!” telepon rumah berbunyi. Stella bangun dari tidurnya dan langsung mengangkat
telepon. “Hallo ? dengan siapa ini ?”, tanya Stella. “Stella ini Papa, kamu
segera ke rumah sakit. Mama kamu kritis.”, jawab Papa Pratama dengan panic.
“APA ?! iya aku segera kesana Pa.”
Sesampainya
di rumah sakit Stella langsung memeluk Mamannya. “Stella maafkan Mama selama
ini ya. Mama sayang sama kamu . Mama juga masih menyayangi Papa kamu. Jaga
dirimu baik-baik sayang.”, kata Mama Leni. Mama Leni menghembuskan nafas
terakhirnya. Stella sangat menyesal selama ini dia tidak menyadari bahwa Mama
Leni sangat menyayanginnya. Stella menangis sambil memeluk Mamannya. Saat di
pemakaman Mamannya, Stella melihat Papa dengan Mama Leni sambil tersenyum
kepadannya. Dalam hati Stella berkata, “maafkan aku Ma. Papa, jaga Mama ya. Aku
sayang kalian.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar